Barack Obama


Kini, senator keturunan Afrika ini jadi presiden Amerika Serikat. Luar biasa. Karena ini sejarah baru bagi Amerika. Presiden pertama yang berkulit hitam. Bayangkan, sejarah masyarakat amerika 40 tahun lalu yang bukan saja diskriminatif, tapi juga segregatif. Bayangkan juga, pada saat itu, orang kulit hitam hidup di sana menjadi warga kelas dua. Bahkan mereka diperlakukan seperti bukan manusia. Mereka, orang kulit hitam, tidak bisa seenaknya memasuki restaurant. Mereka hanya boleh makan di restaurant yang ada tulisan “colour”. Jika masuk restaurant “white”, celakalah mereka. Bisa diusir, dan dimaki habis-habisan.

Kini persamaan hak sudah dirasakan semua orang Amerika. Mereka perlu berterima kasih kepada Martin Luther King, yang telah memperjuangkan hak-hak masyarakat kulit hitam. Apa yang diungkapkan dalam pidatonya yang terkenal, “I Have A Dream”, sudah menjadi kenyataan. Jangan pula melupakan Rosa Park. Seorang perempuan setengah baya, yang melakukan pembangkangan di dalam sebuah bis. Dia tidak mau memberikan tempat duduknya kepada kulit putih, karena merasa dirinya juga manusia. Punya hak yang sama. Padahal undang-undang pada saat itu, mengharuskan semua kulit hitam mengalah dari kulit putih. Gila.

Terpilihnya Obama, menjadi sesuatu yang spesial bagi saya. Sebab, pada 24 Mei 2007, saya sempat bertemu dengannya di Washington DC. Saya masih ingat, saat itu adalah hari Kamis pagi. Kami, satu rombongan berjumlah 17 orang, pergi ke kantornya, dan berkumpul di sebuah Aula. Kami sengaja datang untuk menghadiri Coffee Morning. Sebagai senator Illinois, Obama selalu melakukan open house, bagi konstituen yang mau bertemu dan berdialog dengannya. Pukul 08.00 pagi, saya sudah sampai di aula itu. Acaranya belum dimulai. Tapi ada sajian kopi dan donat yang bisa dinikmati sambil menunggu. Ternyata yang hadir sangat banyak. Bahkan ada rombongan siswa dari sekolah menengah. Rupanya, banyak sekali orang yang ingin bertemu dan berdialog dengan Obama. Mungkin sekitar 300 orang. Pencalonan dirinya untuk maju mengikuti konvensi calon presiden dari partai demokrat, memang sudah dideklarasikan bulan Januari sebelumnya.
barack-obama
Obama piawai memainkan kata-kata. Ia seorang orator yang ulung. Semua orang mengikuti dialog dengan penuh antusias. Lalu terjadi tanya jawab. Karen Eagerer, pimpinan rombongan kami, mengatakan di forum bahwa dia datang bersama 15 orang delegasi dari Indonesia. Tiba-tiba Obama menyapa, “Halo selamat pagi, bagaimana kabarnya?” surprise. Ternyata dia masih bisa mengucapkan bahasa indonesia walau tidak banyak. Kayaknya, dia masih teringat masa kecilnya di Menteng. Ya, dia tinggal di Menteng bersama ibu dan ayah tirinya.

Selesai dialog, kami langsung salaman dengan Obama dan berfoto bersama. Harus ngantri. Karena semua yang hadir ingin difoto bareng Obama. Dan ada tukang foto yang khusus. Tidak boleh pake kamera sendiri. Bayangkan kalau semua orang ingin ngambil foto dengan kameranya. Bisa kelar jam 3 sore. Sambil salaman, Obama dengan ramah menyapa kami. Saat itu, saya berkata, “I’m proud of you. I hope you will be a next presiden”. Seorang teman berkata,”If you selected, please invite us to white house”. Kini dia benar-benar sudah jadi presiden. Saya tidak tahu, apakah dia akan mengundang kami ke gedung putih!?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s