Monsieur Ferjani, Tamu dari Perancis


Nama lengkapnya Muhammad Cherif Ferjani. Dia seorang peneliti dari salah satu universitas di Perancis. Hari Selasa (11/11/08), dia berkunjung ke fakultas syari’ah dan hokum uin sgd bandung. Dia datang bersama Mr. Philip Germaini, direktur CCF Bandung, dan seorang delegasi dari Franch Embassy, plus mr. Dominique, sang translator. Saya kebetulan ditunjuk jadi moderator. Katanya, moderator harus pake bahasa inggris. Tapi, saya tidak enak juga bicara pake bahasa inggris. Bahasa inggrisnya belum expert. Tapi lumayan lah untuk pembelajaran.

Lucunya, orang-orang perancis itu jarang pake bahasa inggris. Saya dikasih kartu nama oleh Mr. Philip. Di sana ada tulisan CCF. Tapi kepanjangannya tidak disebutkan. Mungkin karena pake bahasa inggris. CCF= Center for Cultural Francis (eh bener gak?). mereka malah menuliskannya pake bahasa Indonesia. Pusat Kebudayaan Perancis.

Kalo gak salah, memang ada aturan bagi orang perancis untuk bicara pake bahasanya di manapun dan kapanpun. Bahkan dalam forum resmi PBB pun, para diplomat perancis, selalu bicara pake bahasa perancis. Mereka tidak mau pake bahasa inggris. Mungkin untuk menunjukkan harga diri, atau menunjukkan kalau mereka tidak pernah dijajah inggris. Tidak tahu lah. Kemarin saya tidak sempat menanyakan masalah ini ke mereka. Beda banget dengan orang indonesia, yang sok keingris-inggrisan.

Balik ke diskusi. Mr Ferjani, membahas tema “hubungan politik dengan agama”. Yang dibahas ternyata dalam agama islam. Dia bilang, politik dan agama Islam ada hubungannya, berdasarkan fakta al-Qur’an dan perjanjian madinah. Lalu dia menguraikan kasus kepemimpinan pasca wafatnya Rasul Muhammad. Katanya, ada tiga kelompok yang merespon masalah ini. Pertama, kelompok yang menganggap bahwa tidak ada penerus kepemimpinan Muhammad. Kelompok ini, kata Ferjani, adalah kalangan nomad, yang menginginkan kebebasan. Mereka hidupnya berpindah-pindah dan tak mau diatur. Makanya mereka berpendapat seperti itu. Kedua, kelompok syi’ah. Mereka berpendapat penerusnya mesti ahlul bait. Lalu mereka membuat konsep imamah. Sedangkan kelompok ketiga, adalah Sunni. Bagi kelompok ini, siapapun boleh menjadi pemimpin. Asal dia punya komitmen untuk mewujudkan maqashid al-syari’ah. Yaitu menjaga agama (hifdz al-din), menjaga akal (hifdz al-‘aql), menjaga keturunan (hifdz al-nasab), menjaga harta (hifdz al-mal) dan menjaga jiwa (hifdz al-nafs).

Banyak hal yang diungkapkan oleh Mr. Ferjani. Tapi dia presentasi dengan bahasa Perancis. Susah memahaminya. Memang diterjemahkan oleh translator. Tapi, sepertinya agak tereduksi. Ketika tanya jawab, Mr. Ferjani bicara dengan bahasa Arab, kalau penanya, menggunakan bahasa Arab. Tapi dia menggunakan perancis, kalau penanya menggunakan bahasa Indonesia. Makanya diskusinya menjadi sangat lama. Selesai jam 12.10.

Hmmm…diskusi di fakultas memang harus sustainable. Saya, dan dosen yang lain, tentunya mesti terus berpartisipasi, biar wawasannya nambah terus. Gak kalah sama mahasiswa, he he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s