hujan ngagebret, goyang dompret


padahal cuma sekitar 2 kilometer lagi untuk sampai rumah. setelah menempuh jarak sekitar 25 km, dari rumah john, sehabis ngaji11 interaktif. tapi saya harus berhenti. karena hujan ngagebret atau bahasa indonesia yang baik dan benarnya adalah hujan lebat. kebetulan di pinggir ada tempat untuk berteduh, dan banyak motor plus pengendaranya yang berdiri didekatnya. ada sekitar 10 orang di sana. laki-laki dan perempuan. mereka sedang berteduh. mereka tidak mau ngambil resiko, berbasah-basah.

hujannya lebat. kebetulan ada space yang kosong. di atasnya ada kanopi. letaknya di daerah cilengkrang ujung berung. cukup untuk berteduh. saya turun dari motor. tentu tidak lupa pasang standar. sebab kalau lupa, semua motor yang ada di sana bisa jatuh, ketiban motor saya. orang yang motornya ada di pinggir motor saya, melirik. dia laki-laki. berkacamata. nanya, “kena hujan dari mana?”. “sesudah ujung berung”, jawab saya. maksudnya alun-alun ujung berung. sebelumnya, atau sebelum alun-alun ujung berung tidak hujan. “apa saya harus balik lagi ya?,” kata orang yang nanya berkacamata tadi. “terserah,” kata saya. tapi dia memutuskan untuk berteduh. sambil memainkan hp-nya.

hujan pun semakin lebat. “saya akan tunggu hujannya sampai mereda,” kataku dalam hati. tapi hujan tidak kunjung reda. saya menyimpan kamera digital bekas foto-foto di ngaji11 ke dalam kantong plastik. takut basah. tapi hujan tidak reda. banyak motor yang tetap melanjutkan perjalanan. walaupun basah kuyup. luar biasa. mereka tidak sedikitpun tertarik meniru kami yang sedang berteduh. walaupun basah kuyup.

“hmm… beruntung sekali kalau punya mobil. pasti tidak usah berteduh. pasti sudah sampai rumah, sambil minum kopi. saya harus beli mobil, tapi kapan? sekarang tidak punya uang. ada tapi tidak cukup. korupsi? ach apa yang bisa saya korupsi. saya tidak ada akses untuk korup. saya bukan pejabat. bukan anggota dewan. hanya seorang dosen. paling korupsi waktu he he… lagipula menurut saya korupsi itu dosa terbesar setelah musyrik. bahkan sama dengan musyrik. karena, di saat korupsi, seseorang beriman kepada tuhan sekaligus akan menafikan-nya. waktu korupsi, seseorang akan menganggap uang yang dikorup sebagai tandingan tuhan. korupsi juga akan membuat orang lain menderita. membuat orang lain bodoh, miskin, sakit, dll.
kalaupun beli mobil, ada dua cara. kesatu, bekerja keras, nyari penghasilan sampingan, dengan menulis, kerja part time, nyari proyek (asal bukan proyek korupsi). kedua, ini dia yang sering dilakukan oleh tukang pns. minjam duit ke bank dengan menjaminkan sk. mereka bilang bukan menjaminkan, tapi mengamankan sk. supaya tidak hilang atau rusak. tapi, busyet…sk saya ternyata sudah diamankan di bank jabar. 20 bulan yang lalu. sebelum membangun rumah. jadi kalau mau ke bank lagi, mesti nunggu sekitar 4 tahun lagi. mana tahan!

akhirnya saya memantapkan diri untuk bersabar. saya harus ber-qana’ah. merasa cukup dengan yang saya miliki. mengendarai sepeda motor. walaupun selalu kehujanan dan kepanasan. masih banyak orang yang harus naik angkot atau jalan kaki. karena tidak punya sepeda motor. masih banyak orang yang tidak bisa makan. dan saya masih bisa. dan masih banyak yang lainnya.”

hujan tidak lagi lebat. tidak selebat tadi. beberapa sepeda motor sudah mulai meninggalkan tempat berteduh. saya pun siap-siap. saya berpikir harus cepat beranjak. sebab langit sepertinya tidak akan berhenti menumpahkan butiran-butiran air dengan segera. malam sebelumnya hujan baru berhenti jam 00.00. lagi pula ada jas hujan. dan sepatu besar, yang dibeli beberpa bulan lalu untuk menutupi sepatu yang saya pakai. supaya tidak basah dan cepat rusak. lalu saya pun langsung meluncur. pakai jas hujan. tapi lupa pakai sepatu besar. sepatu dan kaos kakinya basah. ternyata hujan kembali membesar. jalan pun banjir.

sistem drainase di kota bandung memang payah. setiap musim hujan, selalu banjir. saya tidak habis pikir, kenapa pemerintah tidak bisa menangani masalah ini. padahal pakar tata kot ada di bandung. ada di itb. banyak pakar. tapi selalu banjir. selalu macet. political will pemerintah sangat lemah. teu boga kahayang. atau ada problem lainnya. saya tidak tahu. akhirnya sampai juga di rumah. basah kuyup. isteri saya sedang nonton tv. volumenya sangat besar. bukan karena marah, tapi hujan lebat telah memaksanya untuk memperbesar volume. supaya kedengaran.

alhamdulillah sudah sampai rumah. walaupun basah, lebih baik di rumah. daripada kering, tapi berdiri mematung di tempat berteduh.