road to aussie


secara tidak sengaja, saya lihat iklan itu di harian kompas. iklan moslem exchange program (mep) 2008. program pertukaran pemimpin muslim muda indonesia-australia 2008. kalau tidak salah, saat itu akhir bulan nopember 2007. pendaftaran ditutup 4 januari 2008. hmm… boleh juga nich.

akhirnya saya meniatkan diri untuk mendaftar. niat sangat penting. makanya, imam syafi’i memposisikan niat sebagai rukun dalam shalat. lalu, saya buka website universitas paramadina. kampus ini, khususnya jurusan hubungan internasional, menjadi panitia seleksi mep. juga web australia embassy, to confirm. ada. lalu saya bikin statement proposal. kurang lebih ada 6 pertanyaan yang harus dijawab.
lalu saya ngurus rekomendasi. ada dua tokoh yang saya minta untuk memberikan rekomendasi. ketua muhammadiyah jawa barat dan ketua mui jawa barat.

kamu pasti nebak kalau saya mengerjakannya dengan cepat dan lincah. sebenarnya tidak. sifat saya yang nyantai, ato alon-alon asal kelakon, membuat saya panik di akhir dead line. skor toefl, minimal 450, belum saya miliki hingga akhir desember menjelang tahun baru. busyet. 31 januari, saya baru ikut test toefl, di eep-dago bandung. hasilnya tidak bisa diambil 1 januari, karena libur. 2 januari say ke EEP lagi, ngambil sertifikat toefl. 494 skornya. lumayan, lebih dari skor yang disyaratkan. sorenya, saya kirim via tiki, sambil berdoa semoga sampai tujuan tgl 4 januari.

setelah itu tidak ada kabar. saya sudah hampir lupa. atau berusaha melupakannya. tapi saya curiga, jangan-jangan tidak lolos seleksi administrasi. atau lebih parah lagi, form aplikasi saya tidak nyampai ke panitia.

sabtu pagi-awal februari, di layar hp saya ada nomor yang masuk. tiga kali. nomor jakarta!!! wah jangan-jangan dari panitia mep. saya tadi tidak sempat mengangkatnya, karena sedang di jalan. di atas sepeda motor. tidak terdengar dan tidak terasa. kalaupun terasa, saya biasanya tidak mau angkat telpon di atas sepeda motor. bukan karena patuh sama pak polisi saja, tapi juga karena takut jatuh atau nabrak. penasaran langsung saya telpon balik. fuuh… tidak bisa. pikiran saya tidak tenang. saya menggerutu, kenapa hari itu mesti ke luar. coba kalau di rumah, nonton tv atau makan, pasti telpon itu ketahuan.

saya berpikir lagi. aha… eureka… e-mail. saya harus buka e-mail. saat itu sore, dan hujan. ke warnet malas. lalu saya buka internet di laptop pake telkomnet instan. walaupun lebih mahal, tapi saya harus mengakses internet. Penasaran. lalu saya buka. ho ho, ternyata ada e-mail yang masuk. mata saya langsung tertuju kepada sebuah e-mail. e-mail dari universitas paramadina. horee… ternyata ada pengumuman nama yang lolos seleksi administratif. saya buka, alhamdulillah nama saya tercantum di sana, di sela-sela 21 orang peserta lainnya. juga ada jadwal interview, untuk memilih peserta yang akan berangkat ke sana. tempatnya di universitas paramadina, hari jum’at depan, tanggalnya lupa lagi.

tiba hari interview, saya naik argo gede. argo gede itu nama kereta api jakarta-bandung, atau bandung-jakarta, kelas eksekutif. walaupun jadwal interview-nya jam 11.00, tapi saya naik kereta jam 6.30. supaya tiba di jkt, tepatnya stasiun jatinegara, jam 9.00. jadi ada waktu untuk nyari lokasi dan istirahat. kata orang jkt, paramadina ada di jl. gatsu. lebih dekat dari jatinegara dibanding gambir.

tiba di jatinegara, hujan sedang turun deras. sialan, saya tidak bawa payung. tapi banyak anak kecil yang nawarin payung. tentu harus bayar. hari gini, mana ada yang gratisan. saya pun menyewa payung besar yang dipegang anak kecil. “saya sewa sampai saya naik taksi ya!,” kata saya kepada anak itu. anak kecil itu mengangguk. lalu kami menyebrang jalan. berjalan agak jauh. karena, kata anak kecil itu, taksi selalu lewat sana.

30 menit sudah lewat. tak satupun taksi yang berhasil saya naiki. bukannya tidak ada, tapi selalu penuh oleh penumpang. hujan pun semakin deras. saya kasihan sama anak kecil. masak dia harus nunggu saya terus. lalu saya berteduh ke pinggir dekat warung nasi. sambil berharap, semoga ada taksi kosong yang lewat. tapi tak ada taksi yang bisa saya cegat. mau naik ojek, pasti basah kuyup. naek bajaj, kejauhan.

saya teringat petunjuk teman. ke paramadina bisa naek bis. tapi harus ke terminal dulu (kalo gak salah terminal kampung melayu), naik angkot. saya pun naik angkot. lalu turun di kampung melayu. hujan masih deras. saya cari bis yang suka lewat kampus paramadina (saya lupa lagi jurusannya). tidak ada. saya tunggu, juga tidak ada. lalu saya cari taksi. taksi jarang yang lewat. kalaupun ada, terisi penumpang. padahal di pinggir saya ada sekitar 5 orang calon penumpang taksi.

saya bingung. tidak tahu harus naik apa. kampung melayu itu dekat daerah apa. terus kalo ke paramadina, lebih dekat dari kampung melayu atau jatinegara. lalu saya lihat hp ternyata sudah jam 10.15. saya tidak pernah pake jam. kalau mau tahu waktu, tinggal lihat hp. Hujan turun deras.

akhirnya saya naik angkot yang sama. balik lagi ke jatinegara. hujan masih lebat. naik ojek, pasti basah kuyup. padahal, dari tadi baju sudah basah kena airu hujan. nyampe jatinegara 10.30. ada waktu 30 menit lagi. kata panitia, kalau telat datang, dianggap gugur. busyet. saya semakin tegang. taksi tetap susah didapat. tapi tunggu, ternyata ada satu taksi. kosong. ada seorang calo yang meminta saya masuk. lalu saya masuk. tapi sopir taksi nanya, mau ke mana? saya bilang mau ke gatsu, paramadina. “aduh maaf, saya mau narik ke bekasi, sekalian pulang”. busyet deh, saya keluar lagi dari taksi. hujan masih turun deras. ya sudah, saya pilih pake bajaj. tarifnya disepakati 20rb.

bajaj itu jalannya lambat. hujan deras. di jalan air mulai tergenang. menghambat laju bajaj. saya lihat hp. jam 10.45. tiba-tiba, bajaj mogok. sopirnya sudah berkali-kali mencoba menstarter. tapi tetap mogok. sopir itu keluar. saya semakin panik. lihat hp, sudah jam 10.50. hujan semakin deras.

tapi di sebrang jalan saya lihat ada taksi. sedang berhenti dekat traffic light. menunggu lampu hijau. saya teriak, sekencang-kencangnya. memanggil taksi itu. sopir taksi menoleh. dia mengangguk. lalu saya kasih uang sopir bajaj 10rb.tadinya saya tidak mau kasih. karena bajaj itu tidak berhasil mengantarkan ke tujuan. tapi kasihan juga sopirnya.

lalu saya nyebrang sambil lari. padahal hujan masih lebat. saya masuk taksi. “gatot subrot-paramadina,” kata saya, setelah ditanya sopir taksi. lalu taksi pun berjalan. “bang, saya harus nyampe paramadina jam 11, bisa?”, tanya saya. bisa. sudah hampir nyampe kok. kata sopir itu, di beberapa titik terjadi banjir. akibatnya macet. taksi pun menjadi jarang.

akhirnya tiba di kampus paramadina, pukul 10.57. hujan masih deras. saya turun dari taksi, dan lari. lalu nyari gedung tempat interview. ketemu. alhamdulillah. masih tepat waktu. meskipun saya basah kuyup. tahu gini, saya mending naik ojek saja. lalu saya pun masuk ruangan interview. ada tiga orang bule yang menginterview. sampai waktu jum’atan.

hari demi hari dilalui tanpa ada kabar dari panitia. hingga tiba hari kamis, 28 februari 2008. siang pukul 13.15, ada telpon masuk ke hp. nomor jakarta!?! lalu terdengar suara perempuan. ibu peni hanggarini. ketua panitia seleksi. “halo pak ayi yunus, saya dari paramadina. apakah pak ayi sedang menunggu sesuatu?” demikian terdengar suara. saya menjawab “ya bu, sedang harap-harap cemas nih”. “begini pak ayi, saya mau memberitahukan bahwa pak ayi lolos seleksi untuk berangkat ke australia”. “alhamdulillah”, gumam saya. “maaf pengumumannya agak lama. pak ayi bisa cek e-mail, dan menghubungi ibu wati syamsu (staf kedubes Australia) secepatnya. nomornya ada di e-mail tersebut”. lalu saya pun bersujud syukur…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s