Unswimming club


Nama yang aneh. Bisa jadi keliru atau salah. Hmm, kalau pak yuyun tahu, mungkin akan disalahkan atau dicoret (pak yuyun itu guru bahasa inggris di sma dulu). Tapi sudah terlanjur diucapkan dan dibentuk. Enak dilapalkan. Tapi, mungkin kamu bertanya-tanya, apa sih unswimming club itu?
Alkisah, saya dulu sering kumpul bareng kawan2. Bikin majalah. Retas magazine, namanya. Sewaktu iseng2 ngobrol, ternyata kami semua tidak bisa berenang. Malu-maluin. Padahal usianya diatas 20an. Dulu, sewaktu di pesantren, ada sih pelajaran renang. Tapi, paling cuma berendam. Tidak serius untuk belajar (diajarkan) renang. Tapi anehnya, nilai olahraga selalu bagus. Guru olehraganya tidak mengenal kami semua. Kalau ada teman yang berenang dengan bagus, dia suka nanyain namanya. Kalau saya kebetulan berada di dekatnya, suka saya jawab: “Oh pak, anak itu namanya ayi. Nama lengkapnya ayi yunus Rusyana”. Maka jadilah nilai olahragaku 8. Nilai hasil nipeng, he he…
Akhirnya, sambil refreshing, kami meniatkan diri untuk belajar renang. Supaya asyik, dibuat clubnya. Namanya, unswimming club. Clubnya orang2 yang tidak bias berenang. Kami memilih kolam renang sabuga itb, tempat belajar. kolam renangnya keren, olympic standard, alias standard olimpiade. Milih kolam renang ini bukan untuk keren-kerenan. Tapi karena di sana ada kolam renang ukuran mini. Kecil dan dangkal. Di kolam renang inilah kami mulai belajar. sama anak2 kecil. Benar-benar kecil, alias balita. Tengsin banget.
Di kolam renang sebelahnya, yang olympic standard itu, banyak orang yang berenang dengan mahir, bagaikan deni si manusia ikan. Kami hanya menonton dari kolam renang mini. Kami terkejut. Ternyata banyak anak kecil (usia sekolah dasar) yang berenang di kolam renang dewasa. Pintar-pintar. Mereka berenang dengan kuat dan lihai. Bagaikan ikan duyung, mereka berenang bolak-balik dari satu tepi ke tepi yang lain.
Hati kami panas. Anak kecil pintar berenang dengan berbagai gaya, kami hanya bisa satu gaya, gaya batu. Terjun ke kolam dan langsung tenggelam. Akhirnya, kami ngajak seorang teman yang sudah pandai berenang. Dia diminta mengajari kami berenang. Dengan susah payah pula kami belajar. tapi, berkat semangat pantang menyerah, sebulan atau dua bulan kemudian kami bisa berenang, tanpa harus tenggelam. Kami pun pindah tempat, ke kolam renang yang olympic standard. Tidak lagi di kolam renang mini.
Hmm… ternyata, kalau punya keinginan keras dan tidak mempedulikan rasa malu, kita bisa juga berenang dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s