Menjadi Manusia Pembelajar


Besok tgl 12 Rabi’ul Awwal 1430 H, atau hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW. Tetapi, saya lebih memilih memperingati wafatnya Rasul yang juga terjadi pada 12 Rabi’ul Awwal, dibandingkan mem-peringati kelahirannya. Bukan karena masalah bid’ah, atau ”teu nyunnah” yang menjadi alasannya. Melainkan, dengan mengingat wafatnya, berarti akan mengingat kesan, pesan, teladan, ajaran dan warisannya. Sedangkan memperingati kelahiran, memori kita hanya akan tertuju kepada nostalgia, pesta, tumpeng, wuduk, besek, dll.

Satu hal yang akan kita renungkan sekarang ini adalah keluhan/ pengaduan Rasul kelak di akhirat nanti, sebagaimana tercantum dalam Surat al-Furqan [25] ayat 30:

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS al-Furqan [25]: 30)

Ada banyak makna yang bisa dipahami dari kata ”mahjuuraa” dalam ayat di atas. Misalnya: kita jarang membaca al-Qur’an, tidak mau mendengarkannya, tidak mau mempelajari kandungannya, tidak mau menjadikannya sebagai pedoman hidup, tidak mau melaksanakan pe-rintah dan meninggalkan larangannya, tidak menjadikannya sebagai obat bagi semua penyakit kejiwaan.

Kata ”qaumii” di dalam ayat di atas, berasal dari kata qaama-yaquumu-qauman. Artinya berdiri, mandiri. Yaitu suatu komunitas masyarakat yang sudah mandiri, mudah dalam mengakses al-Qur’an, dll. Tetapi, celakanya mengacuhkan al-Qur’an. Bisa jadi, kita-lah yang nanti akan diadukan oleh Rasul di akhirat kelak. Karena, kita memiliki akses yang luas untuk mendapatkan dan mempelajari al-Qur’an, bukan para sahabat atau tabi’in, atau tabi’ut tabi’in. Pada saat itu, al-Qur’an sulit diperoleh.

Spirit Iqra adalah Spirit Belajar
Salah satu spirit yang pertama kali ditunjukkan di dalam al-Qur’an, dan perlu kita perhatikan adalah, bahwa kita dikehendaki oleh al-Qur’an menjadi manusia pembelajar. Konon menurut suatu riwayat, proses pembelajaran ini dimulai sejak kita berada di dalam gen-dongan ibu, dan berakhir ketika kita sudah masuk liang lahat (uthlub al-’ilma min al-mahdi ila al-lahdi).

Menurut sebagian pendapat, Rasulullah, ketika menerima wahyu per-tama, tidak bisa membaca dan menulis sama sekali (ummy). Di saat Malaikat Jibril memaksanya untuk membaca (“iqra!”), maka Rasul menjawab: “Ma Ana bi qari’, ma ana bi qari” (saya tidak bisa membaca, saya tidak bisa membaca). Tetapi akhirnya, setelah memaksakan diri untuk belajar, Rasul pun menerima wahyu untuk pertama kali, yaitu surat al-‘Alaq ayat 1-5.

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
[1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

Lima ayat ini memerintahkan kita untuk membaca, belajar, atas nama Tuhan yang telah menciptakan kita. Artinya, bahwa kita sebagai muslim, diperintahkan oleh Allah untuk menjadi manusia pembela-jar. Lalu apakah yang disebut dengan ”belajar”?

Kekeliruan dalam Memahami Makna ”Belajar”

Kita keliru kalau mempersamakan begitu saja kata “belajar” dengan “sekolah” atau ”kuliah”. Kita keliru jika “belajar” juga dipersamakan dengan “kursus” dan “pelatihan” dalam arti berlatih untuk memperoleh keterampilan tertentu, baik yang bersifat teknis seperti kursus komputer, maupun yang non-teknis seperti pelatihan komunikasi, politik, atau manajemen, yang sifatnya non-formal.

Sebab, dengan mempersamakan begitu saja makna “belajar” dengan proses pendidikan yang bersifat formal dan non-formal, kita bisa melupakan sama sekali dimensi informal dari pendidikan yang justru paling penting dan merupakan dasar dari keduanya. Sehingga, ketika kita sedang bermain, bergaul, atau berkumpul sillaturahmi, maka sesungguhnya kita juga sedang belajar.

Makna ”Belajar” dan ”Manusia Pembelajar”
Di dalam tulisan singkat ini, saya perlu menyampaikan 4 arti “belajar”, seperti diulas oleh Andrea Harefa:
pertama, mengejar pengetahuan diri sebagai manusia (learning to be);
kedua, memperkuat solidaritas dan tali silaturahmi sebagai mahluk sosial (learning how to live together);
ketiga, meningkatkan pengetahuan (learning how to think and learn); dan
keempat, meningkatkan keterampilan (learning how to do).

Dalam buku Menjadi Manusia Pembelajar (Kompas, 2000), istilah “manusia pembelajar” oleh Andrea Harefa didefinisikan sebagai:

Setiap orang (manusia) yang bersedia menerima tugas dan tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni: pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi-talenta dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial seperti “Siapakah aku?”, “Dari manakah aku datang?”, “Kemanakah aku akan pergi?”, “Apakah yang menjadi tanggung jawabku dalam hidup ini?”, dan “Kepada siapa aku harus percaya?”; dan kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap bakat-potensi-talenta-nya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan segala sesuatu yang “bukan dirinya”.

Bagaimana Kita ”Belajar”?
Sekali lagi, belajar tidak identik dengan sekolah, kuliah, kursus, atau yang lainnya. Kita bisa belajar di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Untuk mengembangkan bakat, talenta, kabisa, kepintaran, pacabakan, pekerjaan kita masing-masing. Bagi temans yang bergelut di dunia bisnis dan usaha, maka teruslah belajar, belajar, dan belajar, sehingga bisnis dan usahanya berkembang terus menerus. Bagi yang jadi pegawai (negeri atau swasta), juga jangan pernah merasa puas dan nyaman dengan posisinya sekarang, teruslah belajar dan ber-karya kreatif. Kaum ibu juga tetap harus belajar, belajar dan belajar. Karena anak seringkali akan ”lebih banyak belajar” kepada anda, dari bapaknya atau orang lain. Bagi akademisi, belajar dan mengembang-kan dunia akdemis, sudah menjadi sebuah keniscayaan. Kreativitas dan inovasi, akan menjadi ruh kehidupan dan mempertegas eksistensi kita.

Sangat penting bagi kita untuk mempunyai target achievement (kesuksesan) yang jelas dan verbal, di bidangnya masing-masing. Achievement itu sangat penting. Tetapi yang lebih penting lagi adalah proses usaha pencapaian targetnya. Menjadi manusia pembelajar adalah prasyaratnya. Ketekunan, kesabaran, kerja keras, dan do’a adalah kuncinya. Kepercayaan diri (PD) adalah prinsipnya. Kalau tidak salah, Einstein pernah berkata: Kesuksesan itu, terdiri dari 10% imajinasi dan 90% lagi kerja keras. Tukul bilang, kesuksesan itu merupakan kristalisasi dari keringat yang mencucur. Wallahu a’lam

Cinunuk, 11 Rabi’ul Awwal 1430 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s