Deg Deg Plash!


Gembira, tak percaya, khawatir, dan bingung. Semua perasaan itu berkecamuk di dalam dada ini. Semuanya bercampur aduk menjadi satu, datang silih berganti. Ini terjadi setelah oleh panitia dari CCE (Center for Civic Education) saya dinyatakan lolos seleksi Community Leader Program (CLP-2007) pada bulan Mei 2007 di Amerika Serikat (AS). Kami akan berangkat 15 orang; 6 orang dari Bandung, 4 orang dari Banten dan 5 orang dari Bangka-Belitung. 11 cowok + 4 cewek.

Gembira… ya, siapa yang tidak gembira. Amerika gitu lho! Hollywood, artis, kampus terkenal, NBA, George Bush, nuklir, microsoft, orang pintar, orang kaya, inovasi, semuanya ada di sana. Saudara-saudara… saya akan berkunjung ke negara adikuasa yang letaknya nun jauh di sana. Ketika kecil dulu, kawan main saya pernah bilang: “Kalau tanah yang kamu injak sekarang ini dibor terus menerus, tanpa henti-hentinya, maka mata bor-nya akan muncul di negara Amerika Serikat.” Memang belum ada yang membuktikannya. Maksudnya mengebor tanah tanpa henti dan mencapai AS. Tapi perkataan kawan saya itu mendeskripsikan jauhnya letak AS dari negara kita. Bayangin saja, beda waktunya 12 jam. Kalau di sini jam 12.00 siang, di sana jam 12.00 malam atau 00.00. Jika di sini orang-orang lagi sibuk-sibuknya bekerja, maka di sana waktunya orang sedang tidur pulas. Nah, bulan Mei nanti, saya akan pergi ke AS. Tansportasi, uang saku, akomodasi, dll., semuanya ditanggung panitia. Dengan kata lain, saya tinggal membawa badan dan pakaian saja. Gila, nasib saya mujur jur jur… Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur kepada Allah Swt. Maka saya pun berinfaq dan berpuasa selama 3 hari. Itulah nadzar yang saya ikrarkan dahulu di saat mengikuti proses seleksi program CLP.

Percaya tak percaya… Sebelumnya, saya tidak menduga bisa lolos seleksi. Sebelumnya, berkunjung ke AS sama sekali tidak ada di benak saya. Bahkan untuk bermimpi pun saya tidak berani. Tidak ada orang yang saya kenal di sana. Tidak ada biaya untuk berangkat dan tinggal di sana. Tidak ada rencana untuk studi di sana. Tidak ada bayangan tinggal di sana. Semua ketiadaan itu, sebenarnya hanya menjelaskan satu hal, bahwa saya tidak memiliki jiwa petualang. Kurung batokeun. Kata orang, inilah penyakit orang Sunda. Mungkin tidak semuanya. Sebab, ada juga orang Sunda yang berjiwa petualang. Tapi, saya tidak termasuk kelompok minoritas itu. Selama ini saya belum pernah ke luar negeri. Kalaupun ada niat ke luar negeri, itu untuk beribadah haji. Orang tua, saudara, atau siapapun yang pernah naik haji selalu mendorong saya untuk meniatkan diri melaksanakan ibadah haji. Dan kini, saya akan pergi ke luar negeri. Untuk kali pertama. Tapi bukan ke tanah suci Mekah. Melainkan ke Amerika Serikat. Inilah yang membuat saya percaya nggak percaya. Karena Amerika Serikat-lah negara asing yang akan saya kunjungi. Tempat yang terjauh dari Cinunuk-Cileunyi Bandung. Mungkin perasaan saya akan lebih wajar dan datar, jika negara yang pertama kali dikunjungi itu adalah Malaysia, Singapura, atau negara-negara ASEAN lainnya.

Khawatir… Entah mengapa, seringkali saya merasa khawatir menjelang keberangkatan ke negara yang pertama kali diketemukan Colombus ini. Banyak orang bilang, kalau tidak semua orang bisa memasuki AS. Pasca tragedi 9/11, pemerintah AS memang sangat super waspada. Mereka, tampaknya tidak mau kecolongan seperti tragedi WTC. Mereka sangat serius dalam menjaga keamanan negaranya. Makanya, proses pembuatan visa di Kedubes AS sangat ketat, detil dan terkesan rumit. Untuk membuat pas foto yang akan dicantumkan dalam visa pun ada aturannya. Ukurannya harus 5 cm x 5 cm. Tidak lebih dan tidak kurang. Ukuran yang aneh. Selama ini saya hanya tahu ukuran foto 2×3, 3×4, atau 4×6. Bukan hanya itu, bahkan ukuran kepalanya pun sudah ditentukan. Tidak boleh terlalu besar, atau terlalu kecil, dari lingkaran yang digambarkan dalam form persyaratan. Mimik wajahnya harus berseri-seri. Tidak boleh kaku, cemberut, baketut ataupun berwajah sangar. Untung saja wajah saya normal. Tidak sangar. Akan tetapi, jujur saja, semua peraturan foto untuk visa itu membuat saya agak tegang. Berkali-kali saya mengingatkan kepada tukang foto, supaya sesuai dengan ketentuan-ketentuan itu. Bahkan form ketentuan yang dikirimkan panitia saya perlihatkan kepada tukang foto. Saya khawatir, ukurannya tidak 5×5 cm. Saya juga khawatir ukuran kepalanya kebesaran atau kekecilan. Begitu selesai dicetak, lalu saya bandingkan dengan aturan-aturan itu. Panjang-lebarnya saya ukur pakai penggaris. Lalu foto itu saya tempelkan pada kertas contoh dari panitia, dan dilihat di bawah sinar lampu neon. Alhamdulillah… sesuai dengan harapan.

Tapi, rasa khawatir belum hilang. Sebab, visa bukan sekedar foto. Ada form yang harus saya isi. Panitia telah mengirimkannya melalui pos. Banyak sekali pertanyaan yang harus dijawab. Mulai dari identitas diri, latar pendidikan, keluarga, riwayat penyakit, dll. Berkali-kali saya kontak panitia di Jakarta pada saat mengisi formulir itu. Takut salah. Takut berlebihan. Takut apa yang saya tuliskan menjadi penyebab gagalnya mendapatkan visa. Setelah mengisi formulir, saya harus ke Jakarta untuk diinterview pihak Kedubes. Panitia telah mengatur waktunya. Juga transportasi dari Bandung ke Jakarta. Rupanya panitia telah mencarter travel. Sehingga kami bisa berangkat bersama-sama.

Saya semakin khawatir. Obrolan dengan teman-teman dari Bandung ke Jakarta, walaupun menunjukkan rasa gembira, juga menyisakan banyak kekhawatiran. Banyak cerita di balik kegagalan mendapatkan visa. Karena gak bisa menjawab interview lah, disangka teroris lah, dan banyak cerita yang lainnya. Bahkan kami merasa khawatir secara berjama’ah. Sebab sang sopir tidak kunjung menemukan hotel tempat kami meeting. Kami harus berputar-putar terlebih dahulu. Rupanya sang sopir kurang menguasai Jakarta. Kami, berenam, tak satupun yang mengetahui tempat hotel itu. Tapi syukurlah, akhirnya hotel itu ditemukan juga. 9 peserta yang lain sudah berkumpul. Sebelum ke kantor Kedubes AS, saya dengan teman-teman yang lain memang dikumpulkan oleh panitia di suatu hotel untuk mendapatkan pengarahan dan beberapa tips mendapatkan visa. Mereka menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh kami bawa, apa yang boleh dan tidak boleh kami katakan, atau apa yang boleh dan tidak boleh kami lakukan di sana. Hmmm… kami semua merasa tegang, seolah mau memasuki tempat yang asing dan aneh. Penjagaan yang ketat memang sudah terasa begitu kami memasuki pintu gerbang. Semua barang bawaan diperiksa dengan ketat. Sabuk yang ada besinya harus dititipkan. Bahkan kami tidak diperbolehkan membawa hand phone. Lalu kami memasuki sebuah ruangan. Sangat dingin. Tapi tegang. Kami menunggu giliran untuk dipanggil. Suasananya, mengingatkan saya pada umur 10 tahun, ketika mau menjalani operasi amandel di rumah sakit. Satu persatu kami dipanggil. Oleh staff kedubes, kami ditanya nama, tujuan, berapa lama akan tinggal di AS. Sekali-kali, orang bule itu melihat tajam muka kami sambil mencocokkan dengan foto. Alhamdulillah, proses interview di Kedubes AS lancar dan sukses.

Tapi saya masih merasa khawatir. Proses interview di kedubes, belum menjamin saya atau siapapun akan mendapatkan visa. Sekali lagi, tidak semua orang bisa masuk AS. Konon, kalau pihak Kedubes atau Washington tidak memberikan izin, maka kita tidak akan bisa masuk AS dengan cara apapun. Tidak ada nepotisme, kedekatan dengan pejabat, ataupun uang pelicin, yang bisa diandalkan. Faktor keamanan adalah harga mati. Pokoknya, sekali nggak bisa, ya nggak bisa, titik! Makanya, sampai sini, saya belum yakin 100% akan jadi berkunjung ke AS. Makanya, saya nggak berani gembar-gembor kepada siapapun, sebelum dapat visa. Makanya, saya beritahu orang tua, saudara, teman, atau siapapun, supaya tidak menyebarkan berita bahwa saya akan ke AS. Alasannya, saya belum tentu dapat visa. Kalau tidak dapat visa, keberangkatan ke AS pun batal. Makanya, dalam seleksi ini, panitia menambah peserta cadangan, kalau-kalau ada kandidat peserta yang tidak dapat visa. Jujur saja, saya dihantui oleh segumpal kekhawatiran. Khawatir permohonan visa saya ditolak. Bahkan rasa khawatir ini dirasakan hampir sebulan lamanya. Kekhawatiran akhirnya sirna, begitu mendapat telepon dari panita yang mengabarkan bahwa permohonan visa kami semuanya diterima. Alhamdulillah….

Bingung kini menggantikan rasa khawatir. Itu terjadi setelah visa kunjungan ke AS keluar. Bingung yang pertama berhubungan dengan barang-barang yang harus dibawa. Koper, pakaian, alat-alat mandi, makanan, uang, dll. Bagaimana, berapa banyak, boleh atau tidak, dan beberapa kata tanya lainnya bermunculan. Koper yang bagaimana yang layak dibawa. Saudara saya punya koper. Mau dipinjamkan. Tapi, ternyata kopernya jadul banget. Karena, selain bahannya keras, kopernya terlalu kecil. Mungkin produksi tahun 80-an. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli. Setelah koper didapat, giliran isi koper yang membuat bingung. Pakaian, makanan, alat mandi, dan perlengkapan lainnya. Seperti saya katakan, saya belum pernah ke luar negeri. Lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan berikut: Berapa stel pakaian yang harus dibawa? Pakaian mana yang pantas dibawa? Apakah nanti di sana bisa nyuci? Berapa pasang, sepatu yang harus dibawa? Sang isteri dan ibu, mengingatkan saya untuk membawa makanan. Mereka khawatir tidak ada makanan yang cocok dan halal. Lalu, setelah koper terisi penuh, berkali-kali saya menimbangnya. Khawatir beratnya lebih dari 20 kg. Ini batas maksimal berat koper yang boleh dibawa. Kalau lebih, tiap kilogram akan didenda, kalau tidak salah $ 25/kg.

Bingung yang kedua, berhubungan dengan souvenir yang harus dibawa. Souvenir ini akan diberikan kepada panitia, tokoh-tokoh yang akan dikunjungi, host tempat saya tinggal, dll. Teman-teman yang dari Bandung, terutama ibu-ibu, selalu membicarakannya. Saya harus memutar otak untuk membeli souvenir ini. Souvenir harus unik dan khas, supaya senang yang menerimanya. Souvenir juga harus ringan dan tidak besar, supaya tidak repot membawanya. Souvenir harus murah tapi tidak murahan. Ini yang penting, he he… Supaya tidak berat di kantong. Akhirnya saya membeli souvenir bercorak batik. Kain, gantungan kunci, post card, dll. standar banget.

Bingung yang ketiga, berhubungan dengan apa yang akan dilakukan di sana ketika bertemu tokoh-tokoh, berkunjung ke sekolah&kampus, ngobrol dengan host, dll. Sepertinya, saya harus mempelajari budaya dan adat istiadat orang bule. Mulai dari cara makan, menggunakan toilet, dll. Namun, harus diakui, bahwa peranan panitia dari CCE sangat besar. Kekhawatiran dan kebingungan yang saya alami, akhirnya berkurang. Bahkan workshop 3 hari sebelum keberangkatan ke AS, sangat membantu saya dan teman-teman dalam mempersiapkan keberangkatan ke sana. Ho ho… kami pun semakin tidak sabar!

2 thoughts on “Deg Deg Plash!

  1. ya, program pertukaran (exchange program) ke luar negeri, sebenarnya sangat banyak dan selalu ada tiap tahun. tinggal rajin cari di internet… bhs inggrisnya oke, dll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s