Buka Puasa; Adzan Maghrib atau Adzan Isya?


Salah seorang teman penulis yang dikenal cukup kritis, pernah melontarkan pendapat yang nyeleneh tentang waktu berbuka puasa. Menurutnya waktu buka puasa yang tepat sesuai perintah Tuahn itu bukannya adzan Maghrib, melainkan adzan Isya. Pendapat tersebut cukup mengagetkan, karena bertentangan dengan fiqh mainstreem yang berkembang dari dulu sampai sekarang. Kita sudah terbiasa berbuka di saat Adzan Maghrib berkumandang, sehingga pendapat tersebut bagaikan guntur di siang hari bolong.
Lebih lanjut teman penulis mengungkapkan bahwa pendapatnya itu didasarkan kepada QS. al-Baqarah [2]: 187, ”wa atimmu al-shiyaam ila al-lail” . Menurutnya, terjemahan ayat itu adalah ”Sempurnkanlah oleh kalian ibadah shaum itu sampai malam”. Adzan Magrib, menurutnya tidak bisa disebut malam, karena masih terang benderang. Makanya, waktu yang tepat untuk berbuka adalah waktu Adzan Isya.
Selama ini, kita memang tidak pernah mengetahui dasar hukum ditetapkannya Adzan Maghrib sebagai waktu berbuka. Kita selalu menerima keterangan itu secara taken for granted, yang dipercaya 100% tanpa berusaha mengetahui dalil hukum yang lebih jelas. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis berusaha untuk menjelaskan pendapat nyeleneh di atas, sekaligus menelusuri keterangan yang menyebutkan bahwa adzan Maghrib adalah waktu yang sah untuk berbuka puasa. Sehingga kita bisa merasa tenang dan mantap untuk menjalani ibadah shaum Ramadhan ini.
Perbedaan Paradigma Hukum
Hmm, pendapat ini memang sangat menarik. Karena pemahaman tersebut berbeda dengan pemahaman ulama fiqh mainstreem. Hal itu, menuntut kita untuk berpikir terbuka dan bahkan memaksa kita untuk berpikir keras sebenarnya apa yang dimaksud dengan kata ”al-lail” di sana. Apakah permulaan waktu malam, pertengahan, sepertiganya, atau di akhir malam? Tidak seperti perintah untuk bangun pada malam hari dalam QS. Al-Muzzammil [73]: 2-4, kata ”al-lail” di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 187 memang tidak disebutkan secara spesifik.
Hingga saat ini, saya meyakini bahwa setelah Allah Swt., yang lebih memahami maksud dari ayat-ayat al-Qur’an adalah Rasulullah Saw. Karena memang beliau oleh Allah ditugaskan selain untuk menyampaikan al-Qur’an kepada manusia juga untuk menjelaskannya (litubayyina li al-naas maa nuzzila ilaihim). Selain itu, Rasulullah Saw. oleh Allah Swt. sendiri diperintahkan untuk dijadikan uswah hasanah bagi kita semua. Perilaku dan praktek ibadahnya adalah teladan yang mesti diikuti, karena merupakan pengejawantahan dari al-Qur’an itu sendiri. Bagaimana mengetahui teladan Rasul, maka hadits merupakan dokumen penting yang dapat dijadikan pegangan. Tentu saja tidak semua hadits dapat dijadikan pegangan. Karena banyak hadits yang dla’if (lemah), maudlu (palsu), dll. Untuk itulah ilmuwan muslim terdahulu merumuskan ’Ulum al-Hadits, untuk meneliti keshahihan hadits (Konon para ilmuwan barat sangat mengagumi ’Ulum al-Hadits sebagai ilmu yang paling ilmiah dan memenuhi standar akademik yang tinggi. ”Mu’jam mufahras li alfadz al-hadits”, kitab indeks hadits, bahkan ditulis oleh orang barat, kalo tidak salah namanya, Wen Sinck).
Tapi, saya pun terkadang terlalu ekstrim dalam melakukan kritik hadits. Sementara di saat bersamaan saya seringkali mengutip pendapat Aristoteles, Sigmund Freud atau Nietzsche, padahal tidak ada standar ilmiah (seperti dalam Ulum al-Hadits) yang menjamin bahwa pendapat itu betul-betul genuine terlontar dari tokoh-tokoh tersebut, atau tidak ada informasi yang menjelaskan jejak rekam kehidupan tokoh-tokoh tersebut (Apakah moral mereka baik? Apakah mereka suka berbohong atau kencingnya sambil berdiri di belakang pohon? Apakah pendapat mereka dipengaruhi oleh faktor sosio-politik tertentu?).
Nah, dalam konteks batas akhir waktu puasa atau waktu berbuka, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaemah, Bazzar, Hakim, Baihaqi dan Thabrani, meyebutkan bahwa Anas Ra. (sahabat Rasul) berkata: ”Saya sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah Saw. shalat maghrib sebelum berbuka puasa walaupun beliau berbuka dengan seteguk air”. Hadits ini ada di dalam al-Mu’jam al-Ausath dan sanadnya shahih, demikian seperti diungkapkan oleh Abu Iyas Mahmud bin Abdul Lathif bin Mahmud dalam kitab al-Jaami’ li Ahkam al-Shiyam.
Oleh karena itu, mayoritas ulama fiqh, membuat kesimpulan hukum (istinbath al-ahkam) bahwa waktu buka puasa itu adalah mulai datangnya malam, yaitu ketika matahari terbenam, walaupun mega merah masih terlihat di ufuk. Waktu terbenam matahari adalah waktu maghrib. Meskipun demikian, sebagian kecil ulama fiqh memahami, bahwa batas puasa adalah setelah menyebarnya kegelapan malam dan hilangnya mega merah.
Menurut saya, pendapat pertama sebenarnya lebih jelas, tegas dan sesuai sunnah Rasul. Walaupun waktu maghrib keadaan langit masih cukup terang. Tapi awal dari kedatangan malam memang merupakan waktu transisi. Antara siang dan malam. Antara tenggelamnya matahari dan kemunculan bulan. Belum gelap seratus persen. Bukankan di negara kita setiap awal musim kemarau, hujan masih suka turun? Atau kalau di negara yang mempunyai empat musim, walaupun musim panas sudah dimulai, tetapi cuacanya kadang-kadang masih dingin.
Sedangkan pendapat yang kedua, yang dikemukakan oleh minoritas ulama, selain tidak sesuai dengan sunnah Rasul, juga waktunya tidak jelas. Sebagian dari mereka ada yang berpendapat 15 menit setelah waktu maghrib, 23 menit setelah maghrib, ada yang menunggu malam semakin gelap, bahkan ada yang menunggu sampai bintang bermunculan. Menurut Abu Iyas, konon umat Nashrani dan Yahudi selalu menunggu kemunculan bintang-bintang di langit untuk berbuka puasa.
Hadits yang lain dapat kita lihat dalam Musnad Imam Ahmad, yang diterima dari Abu Ayyub, dia mengatakan bahwa Nabi Saw bersabda: ”Shalat Maghrib-lah kalian pada waktu berbuka, dan dahuluilah kemunculan bintang-bintang”. Untuk itulah, dalam fiqh dikenal dengan konsep ta’jil, yaitu segera berbuka puasa begitu adzan maghrib tiba. Berbeda dengan sahur yang akan lebih baik dilakukan menjelang waktu fajar/adzan shubuh (ta’khir). Karena itu, saya sepakat dengan Quraish Syihab, di dalam tafsirnya Al-Mishbah, menerjemahkan ”wa atimmu al-shiyaam ila al-lail” dengan ”Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”. Awal datangnya malam, adalah ketika matahari terbenam, atau dalam bahasa Sunda adalah ”wanci sareupna”. Itulah pergantian hari dalam kalender Hijriyah, karena menggunakan sistem komariyah. Makanya, untuk menentukan pergantian bulan, rukyat al-hilal pun sering dilakukan pada waktu terbenamnya matahari.
Hikmah Berbuka pada Waktu Adzan Maghrib
Perlu juga saya sampaikan disini, bahwa, menurut saya, ada hikmah yang dapat kita ambil jika adzan maghrib dijadikan waktu berbuka puasa. Waktunya belum terlalu malam untuk makan, sehingga alat pencernaan di dalam tubuh kita memiliki waktu yang luang untuk mencerna makanan yang masuk ke dalam perut, sebelum kita tidur. Walhasil, kita tidak akan tidur dalam kondisi sistem pencernaan masih bekerja. Selain itu, jika buka puasa waktu Isya atau sewaktu bintang-bintang di langit menampakkan diri, saya tidak membayangkan bagaimana uamt Islam yang berada di Eropa yang siangnya lebih lama, harus menunggu buka puasa lebih lama lagi.
Fiqh memang suatu produk dari proses penyimpulan hukum (atau pemahaman) dari sebuah ayat atau hadits. Hal ini tergantung dari paradigma, perspektif dan metodologi yang digunakan. Sebagai sebuah produk pemahaman, fiqh akan selalu berbeda, meskipun ayat dan haditsnya sama. Ala kulli hal, kita mesti menghargai pendapat teman kita yang berebda tersebut, dan berterima kasih kepadanya atas digulirkannya wacana tersebut, karena telah ”memaksa” kita untuk memikirkan kembali praktek puasa kita selama ini, dan memaksa saya untuk membuka-buka literatur yang ada. Wallahu a’lam!

One thought on “Buka Puasa; Adzan Maghrib atau Adzan Isya?

  1. mau tanya kalo kita kan sbagai umat yg slalu di bingungkan oleh pendapat para ulama? bgaimna kita menyikapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s