TOTALITAS


Ahad kemarin (8 Nopember 09), kami menghadirkan Drs. H. Iyet Mulyana, M.Pd. (sering dipanggil pak Iyet) untuk memberikan taushiah dalam Forum Silaturrahim11 yang diselenggarakan di rumahnya Pipin Resdiana (Garut). Taushiyah seperti ini memang selalu diadakan untuk lebih menyegarkan perspektif barudak angkatan 11 DA dalam memahami agama dan kehidupan ini.

Bukannya tanpa alasan, kami mendatangkan pak Iyet yang kini menjadi ketua PDM Garut ini. Dulu ketika membina kami (terutama ketika duduk di kelas VI), pak Iyet dikenal memiliki semangat juang tinggi tanpa mengenal lelah. Pak Iyet, rasa-rasanya tidak pernah absent di kelas, jika tidak ada alasan yang “super darurat”. Pernah kami merasa senang akan mendapatkan pelajaran kosong (satu-satunya pelajaran favorit kami, he he…) jam 05.00-06.20, karena pak Iyet diperkirakan masih kecapaian baru tiba dari luar kota jam 02.00 pagi. Tapi, dugaan kami ternyata keliru. Dengan tenangnya, beliau masuk kelas untuk mengajar Ushul Fiqh. Kami, pada saat itu, dengan terpaksa masuk kelas!!!

Banyak santri yang “kebluk” merasa keuheul dengan semangat pak Iyet. Karena, hampir setiap menjelang shubuh selalu membangunkan kami sambil bertepuk tangan (Konon, dulu pak Iyet pernah disetrum oleh senior kami melalui pegangan pintu yang telah dialiri listrik. Busyet, teuing saha tah nu boga dosa na?). Kalau ada santri yang masih tidur, tak segan-segan dia mendekatinya dan membangunkannya tanpa kekerasan. Sepengetahuan saya, tak ada santri yang pernah merasakan tamparan tangan pak Iyet, walau si santri ketauan sedang “udud” sekalipun. Di sisi lain, pak Iyet bahkan pernah “kejar-kejaran” dengan sebagian santri Shabelas yang mau membolos dan sembunyi di lapangan Basket. Dengan cara mengintip dari WC Tsanawiyah, persembunyian barudax pun ketahuan.

Ada kelebihan lain yang baru kami ketahui setelah menjadi alumni DA. Yaitu, keterampilannya dalam bernegosiasi dengan pejabat dari instansi pemerintahan atau lembaga lainnya. Dia cukup rajin membuka komunikasi dengan mereka secara persuasif, supaya membantu pondok. Dengan penuh kesabaran, pak Iyet mendatangi mereka, walaupun harus menunggu lama. Hasilnya, beberapa bantuan, baik berupa dana, fasilitas, maupun program yang diberikan ke DA pun mengalir.

Satu lagi kelebihan pak Iyet yang sangat jarang dimiliki setiap orang, adalah kemauannya untuk belajar dan mendengarkan. Ketika menjadi salah seorang pimpinan pondok (di saat pak Miskun –Allahu yarham—sakit), pak Iyet tidak segan-segan mendatangi alumni untuk meminta masukkan atau menanyakan sesuatu masalah. Bahkan, saya masih ingat betul, pak Iyet ikut berdiskusi dengan beberapa alumni sampai jam 2 malam –walaupun sambil terkantuk-kantuk—untuk merumuskan visi, misi dan strategi pengembangan pondok.

Ketika dalam Forum Silaturrahim11 kemarin ditanya mengenai tips dan prinsip pak Iyet dalam melakukan itu semua, jawabannya sederhana: “Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan. Peupeuriheun boga elmu ngan sakitu-kituna, atuh minimal hadir terus di kelas dan mengontrol asrama”. Lebih lanjut pak Iyet mengatakan: “Pokoknya selama kaki ini bisa melangkah, maka saya akan berusaha melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya”. Pak Iyet, katanya, mengambil prinsip dari praktek shalat seperti yang diungkap dalam hadits. Harus dilakukan dengan berdiri, jika tidak bisa, dilakukan sambil duduk, jika tidak bisa, maka dilakukan sambil berbaring dengan isyarat. Kalau tidak bisa dengan isyarat, maka berarti kita akan dishalatkan.

Totalitas!?! Mungkin itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan apa dilakukan pak Iyet, selain keikhlasan. Dia tidak pernah mempertanyakan apa yang pondok telah berikan, tapi sebaliknya dia selalu bertanya apa yang telah dilakukannya untuk pondok. Totalitas inilah yang sesungguhnya dibutuhkan para pengasuh pondok sekarang ini, dan tentunya kita semua, di manapun kita beraktivitas. Sebab, totalitas ini akan memunculkan energi positif, di saat energi negatif mengepung kita. Totalitas akan membuat kita fokus pada tujuan, tanpa tergoda oleh rayuan materi. Totalitas, juga akan membikin hidup lebih hidup (sory mun siga iklan!).

Totalitas dan keikhlasan ternyata menjadi kunci kesuksesan pak Iyet. Pengabdian yang dilakukan oleh Pak Iyet, akhirnya mendapatkan balasan yang setimpal. Misalnya, dia telah menjadi PNS (kini pak Iyet menjadi Pengawas Sekolah), pernah merasakan tinggal di Amerika Serikat, dan bahkan pernah naik haji sebanyak 2 kali. Dengan rendah hati, pak Iyet berkomentar: “Itu semuanya berkat Darul Arqam”.

Walaupun telah menjadi Pengawas Sekolah dan Ketua PDM, serta pernah menginjakkan kakinya di Mekkah dan New York, hingga kini pak Iyet tidak pernah meninggalkan satu kebiasaan mulia yang telah dilakukannya sejak berumah tangga. Yaitu, pergi ke pasar pada pagi hari, sekitar jam 04.00, belanja kebutuhan sehari-hari (sayur, lauk pauk, dll), untuk dimasak dan dimakan bersama keluarganya. Subhanallah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s