Tahun 2010, Tahun Kunjung Museum?


Rasanya sulit untuk diingat, kapan terakhir kali penulis berkunjung ke museum. Lalu, tiba-tiba saja, Ir. Jero Wacik, SE., Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, mencanangkan tahun 2010 sebagai Tahun Kunjung Museum (www.budpar.go.id). Menurutnya, tahun 2010 ini, merupakan awal dari Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) tahun 2010-2014.

Museum, oleh sebagian besar masyarakat, memang belum dijadikan prioritas utama yang harus dikunjungi. Padahal, museum merupakan suatu institusi yang didedikasikan untuk membantu masyarakat dalam memahami dan mengapresiasi segala jenis pengetahuan. Di museum, masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, dapat belajar tentang alam, sejarah, seni, budaya, agama, sampai sains dan teknologi.

Selama ini, masyarakat cenderung memilih mall, factory outlet (FO), atau tempat wisata lainnya untuk dikunjungi. Tengoklah tempat-tempat tersebut di akhir pekan, atau di saat libur hari raya besar. Pasti selalu dipadati pengunjung. Hal ini berbanding terbalik dengan museum; sepi dan hampa pengunjung.

Budaya konsumerisme, disinyalir sebagian kalangan, sudah meracuni sebagian besar masyarakat. Bagi mereka, menghabiskan uang ratusan ribu rupiah untuk belanja atau berwisata kuliner, sudah menjadi ritual di saat liburan. Padahal tiket masuk ke suatu museum umumnya lebih murah. Tidak sampai seratus ribu rupiah. Sangat ironis, memang!

Tiga Kesan Negatif
Kendati demikian, sangatlah tidak bijak menuduh masyarakat sebagai pihak yang tidak peduli. Keengganan mereka berkunjung ke museum, tentu bukan perkara tidak menghargai museum atau budaya konsumerisme belaka. Bisa jadi hal itu berkaitan dengan kesan negatif tentang museum yang melekat di benak masyarakat.

Pertama, museum adalah tempat yang monoton dan membosankan. Desain interior serta display beberapa koleksi museum cenderung kaku dan stagnan. Pihak pengelola hampir tidak pernah melakukan perubahan atau sekedar menambah variasi dalam dekorasi. Penggunaan media audio visual untuk menjelaskan peristiwa atau suatu koleksi masih jarang, kecuali di beberapa museum besar yang terletak di kota besar.

Kedua, museum adalah tempat belajar siswa, bukan wahana wisata. Hal ini terjadi, karena pengelola museum jarang menawarkan program yang bisa menghibur masyarakat. Akhirnya, setiap kali mengunjungi museum, pengunjung hanya terdiam pasif. Mereka hanya melihat berbagi koleksi yang terbatas, ataupun mendengarkan pemaparan pemandu museum yang formal dan kaku.

Ketiga, museum adalah tempat yang angker, kumuh dan tidak terawat. Kesan angker biasanya dilekatkan kepada bangunan tua yang dijadikan museum. Sementara kesan kumuh dan tidak terawat akibat dari kurang bersihnya museum, hatta debu atau sarang laba-laba pun memenuhi ruangan dan benda-benda koleksi. Kesan kumuh menjadi makin parah jika museum tidak menyediakan toilet yang bersih dan nyaman.

Perlu Terobosan Baru
Menjadikan museum sebagai obyek wisata yang menarik wisatawan diperlukan terobosan baru. Tidak ada salahnya jika pengelola museum mengadaptasi metode unik yang pernah dilakukan oleh pengelola museum di luar negeri. Salah satunya, pernah dialami penulis di Slavery Museum yang terletak di Kota Selma Negara Bagian Alabama-Amerika Serikat.

Sewaktu mengunjungi museum yang terletak ini, penulis mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Begitu akan masuk ke museum, kami langsung dibentak-bentak oleh seorang petugas (pemandu) dan disuruh berdiri menghadap ke dinding tembok. Lalu kami digiring satu persatu masuk ke dalam ruangan kecil yang gelap gulita. Suasananya sangat mencekam karena diiringi teriakan kesakitan dan tangisan yang menyayat hati.

Setelah itu, kami semua diminta naik perahu. Pemandu memberikan instruksi supaya kami membayangkan diri sebagai rombongan budak yang diangkut dari Afrika ke Amerika. Rombongan budak yang duduk berdesak-desakkan, harus memakan makanan yang sudah basi, sementara di pingirnya ada budak yang disiksa sampai mengeluarkan darah dan nanah. Ketika pemandu bercerita, didepan kami terpampang gambar lautan yang muncul dari LCD, sambil diiringi suara desiran ombak yang keluar dari speaker. Kunjungan menarik ini berakhir setelah pemandu museum mengajak semua pengunjung mengucapkan ikrar bersama (peace promise), sambil berpegangan tangan, untuk melawan semua bentuk penindasan, serta menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Sungguh, ini merupakan pengalaman mengejutkan sekaligus mengasyikkan. Dengan metode ini, pengelola Slavery Museum telah berhasil mengenalkan sejarah perbudakan, secara kognitif dan afektif sekaligus.

Selain metode kreatif seperti didemonstrasikan di atas, banyak hal yang mesti dilakukan untuk mewujudkan Tahun 2010 sebagai Tahun Kunjung Museum. Kaidah hukum “Merawat peninggalan masa lalu yang baik serta melakukan terobosan baru yang lebih baik” (al-muhaafadzah ‘ala al-qadiim al-shaalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah) perlu dijadikan prinsip dasar dalam tata kelola museum. Artinya merawat semua koleksi, bangunan dan benda-benda museum lainnya itu perlu. Tapi kreativitas dan inovasi jangan dilupakan.

Selain itu, pengelolaan museum yang selama ini terkesan pasif dan ala kadarnya, perlu diubah menjadi lebih progresif dan profesional. Paradigma dari sekedar menunggu pengunjung, perlu diubah menjadi mendatangkan pengunjung. Pelayanan yang diberikan, mestilah diorientasikan kepada kepuasan pengunjung (customer satisfaction). Tanpa itu semua, pencanangan Tahun 2010 sebagai Tahun Kunjung Museum hanya akan menjadi retorika kosong belaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s