déjà vu


Kawan, jika engkau mengunjungi suatu tempat untuk kali pertama, lalu merasa pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya, mungkin engkau sedang mengalami apa yang sering disebut dengan déjà vu. Ya, benar, déjà vu. Garis, atau lebih tepatnya strip miring di atas huruf “e” dan “a” yang mengapit huruf “j” ini terketik secara otomatis, begitu jari saya menuliskannya di komputer. Konon, kata yang berasal dari bahasa Perancis ini sering diucapkan atau dituliskan untuk mendeskripsikan pengalaman unik nan aneh ini. Encarta Dictionary menjelaskannya sebagai “a feeling of having experienced something before, although in fact it is the first time that it has been experienced”. Merasa mengalami sebelumnya, padahal pengalaman itu baru pertama kali dialaminya. Mantaaaf!

Di tahun 1999, sutradara Larry dan Andy Wachowski pernah menggunakan konsep déjà vu ini ketika memproduksi film the Matrix yang dibintangi actor ganteng, Keanu Reeves. Sehingga, ketika menonton film science action fiction ini, kita agak mengernyitkan dahi, sedikit merasa bingung dengan alurnya. Bahkan, di tahun 2006, kata “déjà vu” pernah dijadikan sebuah judul film Hollywood lainnya yang berusaha menangkap seorang terrorist yang telah menyebabkan terbunuhnya 500 nyawa dengan cara mengingat kembali semua peristiwa yang terjadi 4,5 hari sebelumnya. Akan tetapi, tentu saja konsep unik ini bukan hanya mainan para sineas dan dikenal di dunia pop culture saja. Para psikolog pun banyak mengulas konsep déjà vu, dan pernah menjadikannya sebagai bahan penelitian yang menarik minat mereka . Tapi, percayalah kawan, saya sebenarnya tidak mau terlibat dengan banyak teori déjà vu ataupun perdebatan para ilmuwan tentangnya. Hanya, saya merasa kalau pengalaman saya ketika berkunjung ke beberapa kota di Amerika Serikat (AS), sepertinya agak mengandung unsur déjà vu yang unik, untuk tidak menyebutnya aneh bin ajaib.

Ceritanya begini…
Di tahun 2006, tersebar informasi di kalangan aktivis Muhammadiyah bahwa dibuka kesempatan bagi para aktivis untuk mengunjungi Amerika Serikat dengan cara mengikuti seleksi program CLP (Community Leader Program). Saya iseng saja mengambil brosur dan formulirnya, tanpa ada ambisi apapun untuk menjadi peserta program tersebut. Bahasa Inggris yang pas-pasan dan nama besar AS telah membuat mental saya agak menciut bahkan untuk sekedar bermimpi pergi ke sana untuk tinggal satu hari pun. Walhasil, formulir itu tersimpan dengan baik, tanpa ada usaha apapun yang dilakukan. Tapi, semuanya berubah, seminggu menjelang dead line, setelah saya dikejutkan oleh beberapa orang teman yang berminat dan berniat untuk mengikuti seleksi. Hal ini membuat saya berpikir, bagaimana kalau saya juga ikut mendaftar, toh kalaupun tidak lolos seleksi, saya tidak rugi sama sekali, malahan nambah pengalaman. Akhirnya dengan mengucap bismillah saya mengirimkan berkas pendaftaran ke panitia melalui jasa pos, tepat di hari terakhir pengembalian formulir.

Singkat cerita, setelah melalui proses seleksi administrasi dan interview, saya, oleh panitia seleksi dari CCE (Center for Civic Education) dinyatakan lolos seleksi dan terpilih menjadi salah seorang peserta Community Leader Program pada bulan Mei 2007 di Amerika Serikat. Kami akan berangkat 15 orang; 6 orang dari Bandung, 4 orang dari Banten dan 5 orang dari Bangka-Belitung. 11 pria+ 4 wanita. Jujur saja kawan, waktu itu, saya sungguh sempat tidak mempercayainya, bahwa saya, akan pergi berkunjung ke negara adikuasa yang jaraknya ribuan kilometer dari Singaparna. Ketika kecil dulu, kawan main saya pernah bilang: “Kalau tanah yang kamu injak sekarang ini dibor terus menerus, tanpa henti-hentinya, maka mata bor-nya akan muncul di Amerika.” Memang, hingga kini belum pernah ada orang, yang gila sekalipun, yang berusaha membuktikannya. Tapi, jika kita melihat globe, maka benua Amerika terletak persis di bawah negara kita.

Sebelumnya, saya tidak pernah pergi ke luar negeri. Kalaupun ada niat ke luar negeri, itu adalah ke Mekah, untuk beribadah haji. Orang tua, saudara, teman atau siapapun yang pernah menunaikannya selalu mendorong saya untuk meniatkan diri melaksanakan rukun Islam yang kelima ini. Lalu, tiba-tiba saja saya akan pergi ke luar negeri. Untuk kali pertama. Tapi bukan ke tanah suci Mekah. Melainkan ke Amerika Serikat. Inilah yang membuat perasaan saya sdikit berbeda. Karena letaknya sangat jauh dari Singaparna Tasikmalaya, tempat saya lahir, atau desa Cinunuk-Cileunyi Bandung, tempat kini saya tinggal. Mungkin perasaan saya akan lebih wajar dan datar, jika negara yang pertama kali dikunjungi itu adalah Malaysia, Singapura, atau negara-negara tetangga lainnya. Faktor itu juga yang menyebabkan saya sangat tidak sabar untuk berangkat ke AS dan segera mengunjungi kota-kota di sana.

The windy city, julukan kota Chicago, adalah kota pertama yang saya kunjungi di AS. Kota besar yang ditata dengan modern dan canggih, terutama setelah kota ini dilanda kebakaran hebat sekitar tahun 1871, ini memang menjadi target pertama kunjungan program ini. Ada dua hal yang membuat saya terkesan dengan Chicago. Pertama, selain tinggal di apartemen, hampir seminggu saya home stay, tinggal di kota ini di tengah-tengah keluarga Amerika. Saya diterima dengan baik oleh mereka, meskipun mereka belum pernah mengenal saya atau bahkan tidak mengenal negara Indonesia sama sekali. Keterbukaannya membuat saya bebas untuk beristirahat, menggunakan kamar mandi, nonton tv, akses internet bahkan menguras isi kulkas (uniknya, isi kulkas adalah hal yang pertama kali ditunjukkan oleh mereka kepada saya begitu saya tiba, dibandingkan bagian rumah lainnya). Kedua, sistem transportasi publiknya didesain dengan cermat dan nyaman, sehingga hampir semua penduduk di kota ini, dan kota-kota sekitarnya, jarang menggunakan kendaraan pribadi. Mereka lebih memilih subway (kereta bawah tanah) atau bis umum untuk menjangkau tempat yang dituju, ataupun kereta api biasa yang selalu datang dan pergi secara on time (penduduk yang tinggal di suburb, pinggiran kota, biasanya menggunakan kendaraan pribadi sampai stasiun, dan melanjutkan perjalanan dengan kereta api). Selalu ada peta, jadwal dan petunjuk informasi yang tepat dan jelas untuk menggunakan semua moda transportasi itu. Program yang saya ikuti menuntut saya untuk mandiri, sehingga untuk menjangkau beberapa lokasi, saya bisa melakukannya sendiri berbekal peta dan informasi transportasi tersebut. Seperti sering kita lihat di film-film, berjalan kaki menjadi tradisi warga kota ini (dan ini sepertinya sangat umum bagi orang barat) untuk mencapai tempat-tempat tertentu, meskipun jaraknya lebih dari satu kilometer.

Begitu tiba di Chicago, saya merasa terkejut di saat membaca schedule kegiatan selama mengikuti program ini (Sewaktu masa orientasi di Jakarta, saya hanya mendapatkan gambaran kegiatan yang global saja). Karena, di sana, ternyata saya mendapatkan nama-nama kota yang pernah saya ”singgahi” dan dan tokoh-tokoh yang pernah saya ”jumpai” sebelumnya. Kota Selma, Montgomery, Georgia dan Alabama, saya pernah ”mengunjunginya”, meski saya baru sekali itu ke Amerika Serikat. Saya juga pernah ”bertemu” dan ”berkenalan” dengan Rosa Parks dan Marthin Luther King Jr., walaupun saya baru akan ”menemuinya”. Bagaimana bisa?

Kawan, sekitar tahun 1999 atau 2000, saya ikut gabung dalam beberapa kegiatan workshop Studi Refleksi Aktif Tanpa Kekerasan (SRATK), program yang diinisiasi oleh Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) yang pada saat itu dipimpin Raja Juli Antoni dan Irfan Amalee. Sebenarnya, saat itu, saya diminta Irfan menjadi editor in chief-nya “RETAS” magazine, media yang mengkampanyekan program anti kekerasan, khususnya bagi pelajar dan remaja, serta bekerjasama dengan majalah “HAI” dalam pendistribusiannya. Selama menjadi volunteer di majalah inilah, saya terlibat menjadi fasilitator SRATK lebih dari tiga kali, kalau tidak salah di Bandung, Malang, Solo, dan kota lainnya.

Nah selama kegiatan workshop itulah saya ”mengenal” tokoh-tokoh anti kekerasan, Rosa Parks dan Marthin Luther King, dan beberapa kota tempat diperjuangkannya civil right bagi warga Amerika Serikat keturunan Afrika. Bahkan untuk internalisasi nilai-nilai non-violence kami melakukan permainan seolah-olah kami mengunjungi kota-kota tersebut dan mengkaji berbagai aksi di sana. Sejak tahun 1900, memang, mereka dinyatakan secara resmi sebagai warga kelas dua di sana, sehingga mereka bukan hanya mengalami diskriminasi tapi juga segregasi (pemisahan). Bayangkan, dulu restauran atau toilet selalu dibedakan dan dipisahkan antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. Jika ada orang kulit hitam yang melanggarnya, mereka sering dihukum dan disiksa. Bahkan, kalau naik bis umum, orang kulit hitam boleh duduk, jika tidak ada orang kulit putih di bis. Rosa Parks adalah seorang ibu rumah tangga dan aktivis komunitas yang melakukan pembangkangan atas kebijakan yang menyakitkan itu. Suatu hari, 1 Desember 1955, dia naik bisa, dan duduk di kursi paling depan. Dia menolak untuk bergeser dan memberikan tempat duduknya, meskipun banyak orang kulit putih yang naik bis. Walaupun semua penumpang, termasuk sopir, telah mengingatkannya, dia tidak bergeming dari tempat duduknya, karena meyakini bahwa semua manusia itu adalah makhluk Tuhan yang sama dan mempunyai hak yang sama. Karena sikap itu, Rosa Parks akhirnya ditangkap dan dipenjarakan.

Dua hari setelah persitiwa itu, Martin Luther King Junior, seorang pendeta kulit hitam di kota Montgomery, menggerakkan massa dan melakukan aksi boikot terhadap semua bis umum, sebagai tanda protes atas penanggkapan Rosa Parks. Sebanyak 35 ribu posters seruan untuk memboikot bis ini disebarkan di beberapa kota. Perusahaan bis dan pemerintah mengalami kerugian besar, karena mereka kehilangan 75% penumpangnya. Akhirnya, aksi boikot yang berlangsung selama 12,5 bulan ini berakhir setelah pemerintah menghapus undang-undang yang mendiskriminasi dan memisahkan (segregasi) orang kulit hitam di bis umum. Gerakan boikot ini, dalam sejarah, dicatat sebagai aksi paling sukses di dunia dalam memperjuangkan hak-hak kaum sipil tanpa adanya tindakan kekerasan. Aksi ini, juga telah menginspirasi gerakan hak-hak sipil lainnya di kota Selma, Atlanta, Birmingham dan Washington DC. Di kota terakhir ini, bahkan Martin Luther King Jr., pada tahun 1963, berhasil menggerakkan 250.000 demonstran untuk memperjuangkan hak-hak sipil orang kulit hitam di AS, dan menyampaikan orasi luar biasa yang sangat inspiratif: ”I have a dream.”(Barack Obama, beruntung saya berhasil menemuinya di Washinton DC, merupakan pengagum Martin Luther King Jr, dan tentu saja orang yang paling medapatkan keuntungan besar dari gerakannya, karena berhasil menjadi presiden pertama AS dari keturunan Afrika).

Dalam Community Leader Program ini, saya mengunjungi kota-kota bersejarah itu secara real dan komprehensif. Kesadaran sejarah yang sangat tinggi yang dimiliki oleh orang-orang Amerika Serikat telah mendorong mereka mengabadikan gerakan hak-hak sipil baik dalam bentuk dokumen, pelestarian situs-situs, dan konservasi apapun yang berhubungan dengan gerakan ini. Hal itu memudahkan bagi siapapun, termasuk saya, untuk mengunjungi, memahami dan ”mengalami” seluruh persitiwa bersejarah itu. Padahal, kalu dipikir-pikir, sejarah kelam itu sebenarnya sangat memalukan bagi orang kulit putih AS. Lalu ketika saya tanyakan kepada direktur program CLP, ”Mengapa orang AS mau mengabadikan dan mendokumentasikan itu semua?” jawab mereka: ”Supaya praktek diskriminasi dan segregasi itu tidak terulang lagi oleh anak cucu kami.” Jawaban yang mantaf! (Benak saya lalu teringat kepada beberapa peristiwa bersejarah di negara kita yang berusaha ditutup-tutupi oleh penguasa, dan hingga kini tidak ada penjelasan yang obyektif)

Jika dalam workshop SRATK saya hanya berkenalan dengan beberapa kota bersejarah di Amerika Serikat dan tokoh pergerakan hak-hak sipil secara imajiner dan semi virtual, maka kini saya benar-benar mengunjunginya. Berbekal pengalaman dan pengetahuan sebelumnya, saya menikmati kunjungan ”yang kedua kali” ini. Bahkan saya khatam berkenalan dengan Martin Luther King Jr., karena program ini benar-benar mengeksplorasi semua hal yang berhubungan dengannya. Bayangkan, kami semua dibawa untuk mengunjungi rumah dan ranjang tempat dia lahir (di kota Atlanta-Georgia), sampai mengunjungi sebuah hotel di kota Memphis-Tennessee tempat dia harus mengakhiri hidupnya secara tragis (plus kamarnya yang masih berantakan seperti kondisi saat dia ditembak) yang kini sudah dijadikan National Civil Rights Museum, dan kuburan tempat dia istirahat selamanya yang kini sudah dijadikan National Historic Cite di Atlanta-Georgia.

Kawan, saya benar-benar merasa bahwa pengalaman ini merupakan déjà vu yang aneh. Karena ini, sesungguhnya tidak seperti pengalaman yang pernah digambarkan dalam film The Matrix, ataupun dikaji oleh para psikolog dalam berbagai jurnal ilmiah. Tapi ini mungkin déjà vu dalam bentuk yang lain. Sebab, saya pernah merasa mengunjungi berbagai kota di AS dan mengenal tokoh-tokoh perdamaian di sana di tahun 2000-2001, meski secara real, saya baru mengunjunginya di tahun 2007. Tapi ada hal lain yang dapat dicatat di sini: saya pada saat itu menyadari bahwa aktif di dalam organisasi sosial secara sukarela, juga akan mendapatkan benefit yang luar tak ternilai harganya, he…he….

4 thoughts on “déjà vu

  1. thanks al Cidix… ya begitulah, alami lalu tuliskan, atau bercerita lalu tuliskan, atau juga menulis lalu ceritakan, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s